Minggu , Januari 21 2018
Breaking News
Home / Akhlaq / Adil Terhadap Semua Anak

Adil Terhadap Semua Anak

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 58

Tentu kita ingat tentang kisah saudara-saudara Nabi Yusuf ‘alaihissalam, ketika melihat kencenderungan dan kecintaan yang lebih dari ayahnya kepada Yusuf. Mereka bertipu muslihat, hingga berusaha untuk membunuh dan menghabisi nyawanya, supaya perhatian sang ayah tertumpah kepada mereka. Kisah ini mengandung banyak pelajaran. Antara lain: bahwa orang tua selaku pendidik dituntut berlaku adil terhadap semua anak. Sebab perlakuan kurang adil yang dirasakan anak akan membekas dalam jiwanya, bahkan sampai ia dewasa.

Sikap adil orang tua akan mencegah timbulnya kedengkian dan kebencian, serta mendatangkan kecintaan dan keharmonisan antar anak-anak. Juga membantu mereka untuk berbakti kepada orang tua dan mendoakan keduanya.

Kita wajib berlaku adil pada semua anak dalam setiap masalah lahiriyah seperti nafkah, hingga dalam masalah kasih sayang, semisal pemberian perhatian bahkan ciuman. Walaupun dalam masalah nafkah, faktor usia dan kebutuhan anak juga tetap dijadikan salah satu pertimbangan utama. Adil tidak mesti sama.

Disebutkan dalam sebuah hadits, bahwa Nu’man bin Basyir pernah bercerita di atas mimbar, “Ayahku telah memberiku sebuah hadiah, akan tetapi ‘Amrah binti Rawahah –yakni istrinya– tidak menyetujuinya. Ia berkata, “Aku tidak akan ridha, kecuali setelah engkau menjadikan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam sebagai saksi atas hal ini!”. Maka ayahkupun datang menemui Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dan berkata, “Saya telah memberikan suatu pemberian kepada anak saya ini. Lalu ‘Amrah menyuruhku agar memintamu menjadi saksi atas hal ini”. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bertanya, “Apakah seluruh anakmu kau beri seperti itu?”. Ia menjawab, “Tidak”. Maka beliau bersabda,

فَاتَّقُوا اللهَ وَاعْدِلُوْا بَيْنَ أَوْلاَدِكُمْ

“Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah kepada anak-anakmu”.

Kemudian ayahku menarik kembali pemberiannya. HR. Bukhari.

Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

فَلاَ تُشْهِدْنِي إِذًا، فَإِنيِّ لاَ أَشْهَدُ عَلَى جَوْرٍ

“Jika demikian, janganlah engkau jadikan aku sebagai saksi. Sebab aku tidak mau bersaksi atas sebuah kezaliman”.

Sedangkan dalam riwayat an-Nasa’i yang dinyatakan sahih oleh al-Albany disebutkan,

أَلَيْسَ يَسُرُّكَ أَنْ يَكُونُوا إِلَيْكَ فِي الْبِرِّ سَوَاءً؟ “، قَالَ: “بَلَى”، قَالَ: “فَلَا إِذًا

“Bukankah engkau menginginkan semua anakmu sama dalam berbakti kepadamu?”. Basyir menjawab, “Tentu”. Beliau bersabda, “Jika demikian, berlaku adillah”.

Lantas bagaimana dengan rasa cinta dan kecenderungan hati?

Bagaimanapun juga orang tua tetap harus berusaha memberikan rasa cinta yang sama. Perhatikanlah, jika salah seorang dari mereka memiliki kelebihan, pasti anak yang lain juga memiliki kelebihan yang berbeda. Letakkanlah kelebihan mereka di hadapan mata, niscaya kekurangan mereka akan tertutupi.

Adapun setelah adanya usaha maksimal, insyaAllah tidak berdosa selama tidak berdampak pada perlakuan secara lahiriah. Sebisa mungkin sembunyikan perasaan itu dan berlaku adillah. Selebihnya, masalah hati kita serahkan kepada Allah ta’ala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *